Langsung ke konten utama

Postingan

Unggulan

Membersamai Kemungkinan

Ada momen-momen dalam hidup saya sebagai seorang guru yang diam-diam mengubah cara pandang saya terhadap manusia, terutama anak-anak. Momen ketika saya melihat seorang murid, yang dulu kecil dan penuh kesalahan, perlahan tumbuh menjadi pribadi yang membawa berbagai kemungkinan, bahkan prestasi. Dan di titik itu, saya seringkali merasa menyesal, bukan karena mereka pernah salah, tapi karena dulu saya mungkin terlalu cepat menilai. Dari pengalaman itu, saya belajar satu hal penting: kenakalan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan anak-anak bukanlah akhir dari cerita mereka. Saya juga pernah mengenal seorang ibu yang, jika dilihat dari luar, mungkin akan membuat banyak orang menggelengkan kepala. Anaknya, bahkan hingga usia dewasa, berkali-kali melakukan kesalahan yang tidak kecil. Namun, sang ibu selalu membuka pintu, kesempatan kedua, ketiga, keempat, bahkan mungkin yang keseribu kalinya. Sebagai orang luar, jujur saja, rasanya geregetan. Seolah-olah tidak ada batas. Seolah-olah tidak ada k...

Postingan Terbaru

Titipan Berkat: Kebaikan yang Tak Sepenuhnya Milik Kita

Metafora Hidup: Saat Sulit Memaafkan

Takbir di Tempat Padat

lebaran dan pameran empati

Runtuhnya Empat Sifat Kenabian dan Terciptanya Ekosistem Saling Curiga

Keberpihakan atau Kebenaran?

Jika Didunia ini tidak ada puasa

Takjil War dan Pelajaran Manis

Ketika Senyum Tak Lagi Dianggap, dan Doa Tak Lagi Dihargai

Toxic Workplace: Tentang Kontrol, Makna, dan Kesadaran Diri di Tempat Kerja