Membersamai Kemungkinan
Ada momen-momen dalam hidup saya sebagai seorang guru yang diam-diam mengubah cara pandang saya terhadap manusia, terutama anak-anak. Momen ketika saya melihat seorang murid, yang dulu kecil dan penuh kesalahan, perlahan tumbuh menjadi pribadi yang membawa berbagai kemungkinan, bahkan prestasi. Dan di titik itu, saya seringkali merasa menyesal, bukan karena mereka pernah salah, tapi karena dulu saya mungkin terlalu cepat menilai. Dari pengalaman itu, saya belajar satu hal penting: kenakalan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan anak-anak bukanlah akhir dari cerita mereka. Saya juga pernah mengenal seorang ibu yang, jika dilihat dari luar, mungkin akan membuat banyak orang menggelengkan kepala. Anaknya, bahkan hingga usia dewasa, berkali-kali melakukan kesalahan yang tidak kecil. Namun, sang ibu selalu membuka pintu, kesempatan kedua, ketiga, keempat, bahkan mungkin yang keseribu kalinya. Sebagai orang luar, jujur saja, rasanya geregetan. Seolah-olah tidak ada batas. Seolah-olah tidak ada k...