Membersamai Kemungkinan
Ada momen-momen dalam hidup saya sebagai seorang guru yang diam-diam mengubah cara pandang saya terhadap manusia, terutama anak-anak. Momen ketika saya melihat seorang murid, yang dulu kecil dan penuh kesalahan, perlahan tumbuh menjadi pribadi yang membawa berbagai kemungkinan, bahkan prestasi. Dan di titik itu, saya seringkali merasa menyesal, bukan karena mereka pernah salah, tapi karena dulu saya mungkin terlalu cepat menilai.
Dari pengalaman itu, saya belajar satu hal penting: kenakalan, kesalahan, dan ketidaksempurnaan anak-anak bukanlah akhir dari cerita mereka.
Saya juga pernah mengenal seorang ibu yang, jika dilihat dari luar, mungkin akan membuat banyak orang menggelengkan kepala. Anaknya, bahkan hingga usia dewasa, berkali-kali melakukan kesalahan yang tidak kecil. Namun, sang ibu selalu membuka pintu, kesempatan kedua, ketiga, keempat, bahkan mungkin yang keseribu kalinya.
Sebagai orang luar, jujur saja, rasanya geregetan. Seolah-olah tidak ada batas. Seolah-olah tidak ada ketegasan. Seolah-olah tidak ada pelajaran tentang benar dan salah yang ditegakkan dengan keras.
Namun waktu membuktikan sesuatu yang tidak bisa dipahami hanya dari potongan cerita. Anak itu berubah. Perlahan, tapi nyata. Ia belajar tentang empati, tentang kasih sayang, dan yang paling penting, ia tidak kehilangan ibunya dalam proses menjadi lebih baik itu. Hubungan mereka tidak rusak. Kepercayaan tetap ada.
Dan di situlah saya tersadar: tidak semua perubahan lahir dari kerasnya hukuman. Sebagian justru tumbuh dari luasnya ruang untuk kembali.
Sejak itu, saya berusaha menggeser cara pandang saya. Ketika melihat murid yang “nakal”, yang berulang kali melakukan kesalahan, saya mencoba berhenti sejenak sebelum memberi label. Saya mencoba melihat dari sudut yang lain, dari kemungkinan kecil yang mungkin belum tampak, tapi bisa tumbuh jika diberi ruang.
Memberi maaf bukan berarti membiarkan tanpa arah. Memberi kesempatan bukan berarti meniadakan konsekuensi. Kita tetap perlu tegas. Tapi ketegasan yang kita hadirkan seharusnya punya tujuan, yaitu membimbing, bukan menghukum semata.
Mungkin itulah mengapa hari ini saya sering dinilai sebagai guru yang “lembek”. Guru yang seharusnya lebih galak. Tapi bagi saya, menjadi galak bukanlah tujuan. Tujuan saya adalah menemani proses tumbuh, membersamai kemungkinan.
Karena saya percaya, setiap anak, siapapun dia, bagaimanapun kesalahannya, selalu punya peluang untuk menjadi lebih baik, dan penting bagi kita mendampingi kemungkinan yang biasanya cuma bisa dilihat oleh orangtuanya.
Mungkin hari ini mereka belum berubah bersama saya. Tapi bisa jadi, suatu hari nanti, nilai-nilai kecil yang pernah ditanam ,yang dibarengi dengan kasih sayang, akan menemukan jalannya sendiri untuk tumbuh di dalam diri mereka.
Dan jika itu terjadi, maka semua kesempatan yang pernah diberikan tidak pernah sia-sia.
Wallahualam bissawaf
Semoga kita semua dimampukan
Komentar
Posting Komentar