Toxic Workplace: Tentang Kontrol, Makna, dan Kesadaran Diri di Tempat Kerja
Tempat kerja sering kali kita sebut sebagai rumah kedua. Namun pada kenyataannya, tidak sedikit dari kita yang justru menghadapi tekananbaik dari tuntutan jobdesk maupun dari dinamika lingkungan kerja itu sendiri. Mungkin dari realitas inilah Indopsycare menghadirkan sebuah workshop kesehatan mental bertajuk Toxic Workplace.
Hai, gue Fenty. Saat ini gue berada di Kuningan City Mall, Lantai 3, untuk menyimak langsung workshop Toxic Workplace, sebuah ruang diskusi kesehatan mental yang diisi oleh seorang Clinical Psychologist, Eric Sucitra, M.Si., Psikolog.
Acara ini terasa menarik sejak awal. Peserta disambut dengan proses registrasi sekaligus free mental health analysis. Sebuah langkah sederhana, namun bermakna—bahwa kesehatan mental bukan sesuatu yang eksklusif, apalagi menakutkan, melainkan hal yang layak diakses oleh siapa pun.
Bagian yang paling “mengena” justru hadir di awal sesi, ketika Dokter Eric menyampaikan kalimat pembuka yang langsung mengubah sudut pandang saya:
“Mengikuti kegiatan ini bukan untuk menciptakan mukjizat di kantor kita,
tapi untuk menyadari apa yang berada dalam kontrol kita
dan apa yang tidak berada dalam kontrol kita.”
Uwww… menarik. Karena sering kali, kelelahan di tempat kerja bukan datang dari pekerjaannya, melainkan dari upaya kita mengendalikan hal-hal yang sejatinya berada di luar kendali kita.
Diskusi awal kemudian dipantik dengan sebuah pertanyaan sederhana, namun reflektif:
“Untuk apa sih kamu bekerja?”
Pertanyaan ini mengingatkan saya bahwa dalam setiap hal yang kita jalani, mengingat kembali tujuan awal adalah hal yang sangat penting. Makna itulah yang kerap menjadi sumber energi yang membantu kita bangkit, bertahan, dan kembali meyakinkan diri bahwa kita mampu melewati berbagai hambatan di dunia kerja.
Diskusi pun berlanjut pada realitas yang sering kita alami bersama:
apakah menjaga kenyamanan orang lain di tempat kerja juga menjadi tanggung jawab kita?
Atau justru di sanalah kelelahan itu bermula ketika kita terlalu banyak memikul hal yang sebenarnya bukan menjadi porsinya.
Saya pun mengajukan pertanyaan kepada narasumber:
Bagaimana membangun kesadaran akan batas tersebut?
Jawaban Dokter Eric singkat, namun tajam:
“Don’t waste your energy for the wrong people.”
ia melanjutkan bahwa kita perlu memanfaatkan momen-momen dalam event kantor sebagai ruang membangun kedekatan yang sehat. Namun satu hal yang tak kalah penting adalah keberanian untuk melakukan refleksi diri
jangan-jangan, yang toxic itu… kita.
Refleksi ini mengajak kita menoleh ke dalam. Menelaah bagian mana dari diri kita yang benar-benar bisa membantu visi perusahaan. Menemukan peran kita di lingkungan kerja, lalu mengupayakan peran itu dijalani sebaik mungkin—tanpa mengorbankan kesehatan mental.
Pada akhirnya, sesi ini mengingatkan saya pada pemikiran Viktor Frankl dalam bukunya A Man’s Search for Meaning:
“Those who have a ‘why’ to live, can bear with almost any ‘how’.”
Bahwa manusia dapat bertahan dalam kondisi apa pun, selama ia menemukan makna di dalamnya.
Dan mungkin, di dunia kerja yang penuh tantangan, menemukan makna itulah bentuk paling nyata dari kesehatan mental.
Fenty Asnath
2024
Komentar
Posting Komentar