Titipan Berkat: Kebaikan yang Tak Sepenuhnya Milik Kita
Aku pernah mendengar sebuah kalimat sederhana: “Anak yang diberi makan dari yang tidak halal, dewasanya akan tumbuh dengan arah yang tidak baik.”
Dulu, kalimat itu terasa seperti nasihat biasa, terasa singkat, lalu berlalu begitu saja. Tidak benar-benar tinggal, apalagi dipikirkan dalam-dalam.
Namun seiring bertambahnya usia, aku mulai melihat hidup dengan cara yang berbeda. Aku menyadari bahwa perjalanan seseorang tidak pernah berdiri sendiri. Ada banyak hal yang bekerja diam-diam di baliknya, yaitu doa yang tak pernah diumumkan, lelah yang tidak pernah diceritakan, dan pilihan-pilihan kecil yang diambil oleh orang tua kita, jauh sebelum kita mengerti arti hidup itu sendiri.
Dari sana, aku mulai memahami satu hal yang cukup mengusik sekaligus menenangkan: kebaikan yang ada dalam diriku, mungkin tidak sepenuhnya milikku.
Ketika aku masih bisa memilih yang benar di saat yang salah terasa jauh lebih mudah, mungkin itu bukan semata karena aku kuat. Bisa jadi, sejak dulu ada tangan yang berhati-hati memastikan setiap suap nasi yang masuk ke tubuhku berasal dari sesuatu yang halal dan bersih.
Ketika aku masih merasa bersalah saat berbuat keliru, mungkin itu bukan hanya suara hatiku. Bisa jadi itu adalah gema dari nilai-nilai yang ditanamkan dengan sabar, bahkan saat aku terlalu kecil untuk benar-benar memahaminya.
Aku pernah mengira bahwa setiap pencapaian adalah hasil dari usahaku sendiri. Bahwa aku berdiri di titik ini karena kerja kerasku, pilihanku, dan langkahku.
Namun kini, aku melihatnya dengan cara yang berbeda.
Barangkali apa yang kita sebut “hasil” itu, sejatinya adalah berkat yang dititipkan Tuhan kepada seorang anak, melalui orang tuanya. Lewat kerja keras yang mereka sembunyikan, keikhlasan yang tidak mereka pamerkan, dan doa-doa yang mereka ucapkan dalam diam tanpa pernah meminta untuk diketahui.
Mungkin itu sebabnya, ada anak yang tumbuh dengan arah yang jelas, sementara yang lain berjalan tanpa pegangan. Karena sejak awal, sebagian jalan hidup seorang anak sudah dijaga oleh tangan yang tak pernah lelah, tangan orang tuanya.
Kini aku mengerti sesuatu yang dulu tidak pernah terpikirkan:
bahwa setiap kebaikan yang tumbuh dalam diriku bukan sekadar hasil didikan. Ia bisa jadi adalah buah dari kejujuran orang tuaku dalam mencari rezeki, kesungguhan mereka dalam menjaga yang halal, dan ketulusan mereka dalam mencintai tanpa syarat.
Dan jika hari ini aku terlihat baik di mata orang lain, mungkin itu bukan sepenuhnya tentang aku.
Mungkin aku hanyalah tempat,
di mana berkat orang tuaku sedang dititipkan.
Dan semoga, suatu hari nanti, kita semua dimampukan untuk menjaga titipan itu, apapun bentuknya agar tetap hidup, tumbuh, dan tidak berhenti hanya di diri kita sendiri.
Wallahualam bissawaf
Komentar
Posting Komentar