lebaran dan pameran empati
Lebaran selalu datang dengan wajah yang sama: hangat, sibuk, dan penuh harap. Di Indonesia, suasana ini terasa begitu kuat—jalanan yang padat, pusat perbelanjaan yang riuh, dan daftar kebutuhan yang seakan tak ada habisnya. Salah satu episentrumnya adalah Tanah Abang, tempat di mana orang-orang berbondong-bondong mencari baju terbaik untuk hari kemenangan.
Namun di antara tumpukan kain, tawar-menawar harga, dan langkah kaki yang terburu-buru, ada pemandangan lain yang sering luput dari perhatian kita, atau justru kita lihat, tapi tidak benar-benar kita pahami.
Mereka yang duduk berjajar di pinggir jalan.
Mereka yang tubuhnya tak sekuat kebanyakan orang.
Mereka yang kita sebut “penyandang disabilitas”.
Seringkali, kehadiran mereka hanya kita tangkap sebagai latar. Bahkan lebih jauh, tanpa sadar kita menjadikan mereka bagian dari “pemandangan musiman” Lebaran, sebuah potret yang memancing iba, lalu berlalu begitu saja. Kita memberi, mungkin. Tapi apakah kita benar-benar berempati?
Karena sejatinya, mereka bukan bagian dari etalase kehidupan.
Mereka bukan “objek belas kasihan” yang hadir untuk melengkapi cerita kita tentang kebaikan.
Mereka adalah manusia, dengan kehidupan yang utuh. Dengan mimpi, kebutuhan, dan harga diri yang sama seperti kita.
Pertanyaannya kemudian menjadi lebih dalam:
Apakah cara kita memberi sudah memuliakan?
Atau justru tanpa sadar merendahkan?
Empati tidak berhenti pada memberi uang receh lalu merasa selesai. Empati adalah kesadaran yang lebih utuh, tentang bagaimana seseorang bisa hidup layak, mandiri, dan dihargai tanpa harus bergantung pada rasa kasihan orang lain.
Lebaran seharusnya bukan hanya tentang berbagi, tapi juga tentang memperbaiki cara kita memandang sesama.
Jika benar kita ingin membangun lingkungan yang lebih baik, maka jawabannya bukan sekadar “memberi lebih banyak”, tapi “membangun lebih adil”. Lingkungan yang aksesibel. Kesempatan kerja yang terbuka. Sistem sosial yang tidak meminggirkan.
Karena pada akhirnya, yang mereka butuhkan bukan sekadar uluran tangan sesaat,
melainkan ruang yang setara untuk berdiri.
Dan mungkin, Lebaran tahun ini bisa menjadi titik awal,
bukan hanya untuk membersihkan hati,
tapi juga memperluas cara kita berempati.
Agar tidak ada lagi manusia yang harus “duduk di pinggir” hanya untuk diakui keberadaannya.
Komentar
Posting Komentar