Takjil War dan Pelajaran Manis
Di antara riuhnya takjil dan aroma gorengan yang menggoda menjelang berbuka puasa, ada satu pemandangan yang membuat saya terdiam sejenak.
Di saat orang-orang sibuk menjual kolak, es buah, dan aneka lauk berbuka, ada seorang penjahit yang membuka lapak kecilnya. Bukan menjual makanan. Bukan menjajakan minuman. Ia menawarkan jasa menjahit.
Awalnya saya tergelitik. Siapa yang akan menjahit di tengah hiruk-pikuk orang berburu takjil?
Ternyata, ada saja.
Ada yang datang memperbaiki baju koko yang sobek menjelang tarawih.
Ada yang meminta celana anaknya dipendekkan agar rapi dipakai Lebaran nanti.
Ada yang sekadar bertanya ongkos permak sambil menunggu waktu berbuka.
Di situlah saya belajar lagi satu hal sederhana:
Rezeki tidak selalu datang dari jalur yang ramai.
Tidak selalu dari usaha yang terlihat “paling laku”.
Kadang, ia hadir dari keberanian untuk tetap membuka peluang di tengah arus yang berbeda.
Di bulan Ramadan, saat banyak orang fokus pada satu jenis jualan, penjahit itu mengajarkan saya tentang ikhtiar. Tentang keyakinan bahwa setiap kesempatan, sekecil apa pun, bisa menjadi pintu rezeki dari Yang Maha Kuasa.
Bukan soal apa yang kita jual.
Bukan soal seberapa ramai pasar di sekitar kita.
Tapi soal kesungguhan hati untuk tetap berusaha.
Karena rezeki tidak pernah salah alamat.
Ia hanya menunggu kita menjemputnya dengan cara yang kita mampu.
Dan mungkin, di antara deretan takjil yang manis, ada pelajaran yang jauh lebih manis:
Bahwa Allah selalu menyediakan bagian untuk setiap hamba yang mau berikhtiar.
Komentar
Posting Komentar