Jika Didunia ini tidak ada puasa
"Kenapa sih harus Puasa?"
pertanyaan sederhana, yang biasanya ditanyakan oleh seorang anak kecil.
Pertanyaan ini, justru jadi pemantik saya berpikir, apa jawaban lain nya dari sekedar menjawab "Karena Kewajiban orang Islam, karena perintah Allah, dan jawaban formal sebagai orang Islam lainnya"
jadi, mari kita berefleksi apa jadi nya jika hidup ini tidak ada momen puasa?"
Di zaman yang serba cepat ini, manusia seperti terus berlari. Waktu tidak lagi diperlakukan sebagai ruang untuk berhenti, tetapi sebagai sesuatu yang harus “dibunuh” agar berubah menjadi perak, menjadi uang, menjadi pencapaian, menjadi sesuatu yang terlihat. Setiap menit diukur dengan produktivitas, setiap hari dipenuhi agenda, dan setiap langkah diarahkan pada hasil.
Dalam ritme seperti itu, banyak hal kecil yang perlahan menghilang tanpa kita sadari.
Salah satunya adalah makan bersama.
Bagi sebagian anak, meja makan tidak lagi menjadi tempat berkumpul. Orang tua pulang larut, anak sudah lebih dulu makan. Atau sebaliknya, makanan sudah disiapkan, tetapi masing-masing duduk di sudutnya sendiri, dengan layar, dengan kesibukan, dengan pikirannya masing-masing. Tidak ada cerita tentang hari yang dilewati. Tidak ada tawa kecil yang muncul dari hal-hal sederhana. Yang ada hanya rutinitas makan, bukan kebersamaan.
Padahal, bagi seorang anak, momen makan bersama keluarga bukan sekadar soal mengisi perut. Di sanalah mereka belajar mendengar, belajar bercerita, belajar merasakan kehadiran orang-orang yang mencintainya. Meja makan sering kali menjadi ruang paling jujur dalam sebuah rumah.
Namun ketika hidup berjalan terlalu cepat, ruang itu perlahan hilang.
Di sinilah puasa menjadi sesuatu yang terasa berbeda.
Puasa memaksa waktu untuk melambat. Ia menahan manusia dari kebiasaan yang biasanya dilakukan tanpa berpikir. Dari pagi hingga senja, ada jeda panjang yang membuat orang kembali menyadari hal-hal yang selama ini dianggap biasa: rasa lapar, rasa menunggu, dan rasa ingin berkumpul.
Lalu ketika azan magrib tiba, banyak keluarga yang akhirnya duduk di meja yang sama. Menunggu bersama. Berbuka bersama. Bahkan bagi mereka yang biasanya tidak pernah memiliki waktu untuk makan bersama.
Sejenak, dunia yang serba cepat itu seperti berhenti.
Bayangkan jika hidup ini tidak pernah ada puasa.
Mungkin kita akan tetap terus berlari tanpa jeda. Anak-anak akan semakin jarang melihat orang tuanya duduk tenang di meja makan. Dan rumah akan semakin sunyi, meski semua orang sebenarnya ada di dalamnya.
Puasa, dalam cara yang sederhana, mengingatkan manusia bahwa kebersamaan tidak selalu lahir dari kelapangan waktu, kadang ia lahir dari kesediaan untuk berhenti.
Dan mungkin, justru di saat menahan lapar itulah, banyak keluarga kembali menemukan sesuatu yang selama ini hampir hilang: momen untuk benar-benar hadir satu sama lain.
Jadi di Ramadhan ini, sudahkah kita benar benar hadir satu sama lain?
It's your turn to answer and reflection
Ciao!
Fenty Asnath
Komentar
Posting Komentar