Ketika Senyum Tak Lagi Dianggap, dan Doa Tak Lagi Dihargai

Ada masa di mana ucapan terima kasih terasa cukup.
Ada masa di mana senyum adalah balasan yang tulus.
Ada masa di mana doa yang terucap lirih lebih berharga dari amplop tebal.
Hari ini, kita hidup di zaman yang mengukur hampir segala hal dengan angka. Nilai diganti nominal. Perhatian diganti transfer. Apresiasi diganti tarif. Seolah-olah ketulusan harus selalu memiliki bukti transaksi.
Padahal tidak semua hal perlu dihargai dengan uang.
Dan tidak semua kebaikan layak dibalas dengan uang.
Lalu dengan apa?
Dengan pengakuan.
Dengan penghormatan.
Dengan sikap yang tidak merendahkan bentuk apresiasi yang sederhana.
Namun yang sering terjadi justru sebaliknya. Ketika seseorang membalas dengan senyum, ia dianggap pelit. Ketika ia membalas dengan sapa, ia dianggap basa-basi. Ketika ia membalas dengan doa, ia dianggap tak punya apa-apa.
Sejak kapan doa kehilangan nilainya?
Di tengah dunia yang serba cepat dan serba materi, kita perlahan lupa bahwa manusia tidak hanya hidup dari materi. Kita hidup dari rasa dihargai. Kita bertumbuh karena didukung. Kita kuat karena ada yang mendoakan.
Doa mungkin tidak terlihat.
Ia tidak tercatat di laporan keuangan.
Ia tidak muncul di mutasi rekening.
Tetapi doa bekerja di ruang yang tak kasat mata. Ia menguatkan tanpa perlu disorot. Ia menjaga tanpa perlu diumumkan.
Masalahnya bukan pada doa yang tak lagi bernilai. Masalahnya pada cara kita memandang nilai itu sendiri.
Kita terbiasa menilai besar kecilnya penghargaan dari bentuk luarnya. Padahal nilai sebuah apresiasi sering kali terletak pada ketulusan, bukan pada jumlahnya. Seseorang yang memberi doa mungkin tidak memiliki banyak hal secara materi. Tetapi ia memberi dari sesuatu yang ia miliki sepenuhnya: harapan baik untukmu.
Dan bukankah itu juga bentuk cinta?
Blog ini bukan tentang menolak uang. Bukan pula tentang menafikan pentingnya imbalan yang layak. Setiap kerja pantas dihargai dengan adil. Setiap tenaga pantas diberi kompensasi yang setimpal.
Namun di luar transaksi profesional, ada ruang kemanusiaan yang tak seharusnya kita hilangkan.
Ruang di mana senyum tetap berarti.
Ruang di mana sapa tetap dihargai.
Ruang di mana doa tidak ditertawakan.
Mungkin kita perlu bertanya ulang pada diri sendiri:
Apakah kita sudah terlalu sibuk menghitung hingga lupa merasakan?
Apakah kita terlalu fokus pada nominal hingga tak lagi peka pada niat baik?
Indah banget kali ya, coba deh bayangin. Bayangkan dunia di mana setiap bentuk apresiasi dihargai, sekecil apa pun. Dunia di mana seseorang tidak merasa direndahkan hanya karena ia memberi dengan cara yang sederhana. Dunia di mana kita mampu melihat hati, bukan hanya bentuknya.
Karena sejatinya, cara orang menghargai kita sering kali mencerminkan apa yang ia miliki, bukan seberapa besar ia memandang kita.
Jika seseorang memberimu uang, terimalah dengan hormat.
Jika seseorang memberimu hadiah, hargailah dengan syukur.
Jika seseorang memberimu senyum, balaslah dengan hangat.
Jika seseorang memberimu doa, aminkanlah dengan rendah hati.
Sebab dunia tidak kekurangan uang.
Dunia kekurangan ketulusan.
Dan mungkin, yang perlu kita pulihkan hari ini bukan sistem pembayaran, melainkan cara kita memaknai penghargaan.

This post is also for myself reminder 

Komentar

Postingan Populer