Keberpihakan atau Kebenaran?

Manusia adalah tempatnya salah. Kalimat ini sederhana, tapi rasanya cukup untuk menjelaskan betapa kompleksnya menilai seseorang dalam kehidupan sehari-hari. Ada waktu ketika seseorang berada di posisi yang benar, tetapi di waktu lain ia bisa saja keliru, bukan karena ia orang yang buruk, melainkan karena keputusan, tindakan, atau sudut pandangnya saat itu tidak tepat.

Kadang juga yang menurutnya benar belum tentu terlihat sama dari sudut pandang kita. Kita bisa berada pada pengalaman, informasi, atau kondisi yang berbeda. Maka perbedaan penilaian sering kali bukan sekadar soal siapa yang benar dan siapa yang salah, tetapi juga soal dari mana kita melihat suatu hal.

Di sinilah dilema sering muncul. Saat kita mendampingi orang-orang di sekitar kita—teman, rekan kerja, atau bahkan orang yang kita hormati, kita sering bingung harus bersikap seperti apa.

Apakah kita harus selalu mendukung seseorang ketika ia benar, lalu meninggalkannya ketika ia keliru? Jika begitu, bukankah kita terlihat seperti tidak konsisten? Terlihat seperti orang yang mudah berpindah posisi?

Atau justru sebaliknya: kita memilih setia pada satu orang atau satu kelompok, sehingga apa pun yang mereka lakukan, benar atau salah, kita tetap berada di pihak mereka?

Pertanyaan ini tidak selalu mudah dijawab. Sebab dalam banyak situasi sosial, keberpihakan sering dianggap sebagai bentuk loyalitas. Ketika kita tidak selalu membela seseorang, kita bisa dianggap tidak setia. Tetapi ketika kita terus membela tanpa melihat kebenaran, kita juga bisa kehilangan kejujuran pada diri sendiri.

Secara pribadi, saya lebih memilih untuk berpihak pada isi, bukan pada orangnya.

Artinya, saya mencoba melihat sebuah gagasan, tindakan, atau keputusan berdasarkan nilai dan prinsipnya. Jika sesuatu itu benar, masuk akal, dan membawa kebaikan, maka rasanya pantas untuk didukung, siapa pun yang menyampaikannya. Bahkan jika itu datang dari seseorang yang mungkin tidak selalu kita setujui dalam banyak hal.

Sebaliknya, jika suatu hal terasa keliru, tidak adil, atau merugikan banyak pihak, rasanya juga wajar untuk tidak mendukungnya, meskipun itu datang dari orang yang kita kenal baik, yang kita hormati, atau bahkan yang kita sayangi.

Berpihak pada kebenaran memang tidak selalu membuat kita terlihat konsisten di mata semua orang. Kadang kita bisa dianggap berubah-ubah. Kadang kita disalahpahami.

Namun pada akhirnya, prinsip bukanlah tentang selalu berada di sisi orang yang sama. Prinsip adalah tentang tetap berdiri pada nilai yang sama, meskipun situasinya berubah dan orang-orangnya berbeda.

Karena kebaikan tidak selalu datang dari orang yang sempurna.
Dan kebenaran tidak kehilangan nilainya hanya karena disampaikan oleh seseorang yang masih memiliki banyak kekurangan.

Maka mungkin yang perlu kita jaga bukanlah kesetiaan pada individu, melainkan kesetiaan pada nilai.

Sebab dalam dunia yang penuh dengan manusia yang sama-sama sedang belajar, berpihak pada kebenaran adalah cara paling jujur untuk tetap berjalan bersama, tanpa kehilangan prinsip diri sendiri. ✨

Komentar

Postingan Populer