Untuk Ibu yang Menjadi Rumah Sekaligus Arah

Every time I read a caption about single moms, I just know, my mom did a super great thing in this life for me.

Ada fase dalam hidup ketika kita mulai tumbuh dewasa, lalu tanpa sengaja melihat orang tua dari sudut pandang yang berbeda. Bukan lagi sekadar “ibu” yang menyiapkan makan, mencuci baju, atau menanyakan “udah makan belum?”

tapi seorang perempuan yang memikul dunia di pundaknya sambil tetap tersenyum.
Dan setiap kali aku membaca kisah tentang single mom, hati ini selalu seperti ditarik kembali pada satu nama: ibuku.
Pernah suatu hari aku berdiskusi dengan teman. Obrolan sederhana yang mendadak jadi dalam.
“Emak kita itu energinya dari mana sih?”
Karena kalau dipikir-pikir, rasanya mustahil.
Bagaimana mungkin seseorang bisa terus berdiri saat lelah?
Bagaimana mungkin seseorang bisa terus tersenyum saat hatinya mungkin remuk?
Bagaimana mungkin rasa sedih, takut, bingung, bahkan kebutuhan akan kasih sayang… nyaris tak pernah terlihat?
Seolah-olah ibu tidak punya waktu untuk rapuh.
Seolah-olah dunia memberi peran bahwa ia harus selalu kuat.
Dan semakin dewasa, aku sadar… mungkin bukan karena ia tidak merasa lelah. Bukan karena ia tidak pernah sedih. Tapi karena cintanya lebih besar dari semua rasa itu.
Cinta yang membuat seorang ibu menelan tangisnya sendiri demi memastikan anaknya bisa tertawa.
Cinta yang membuat seorang ibu mengesampingkan mimpinya agar anaknya bisa mengejar mimpi mereka.
Cinta yang membuat seorang ibu tetap berjalan, meski mungkin hatinya ingin berhenti sebentar.
Aku sering berpikir, kalau bukan karena Allah yang menguatkan, rasanya manusia tidak akan sanggup.
Kalau bukan karena doa-doa panjangnya di waktu fajar…
Kalau bukan karena sujudnya yang lama di sepertiga malam…
Kalau bukan karena air mata yang jatuh diam-diam di atas sajadah…
Mungkin aku tidak akan sampai di titik hidupku hari ini.
Entah sekolahku.
Entah karierku.
Entah caraku bertahan dalam hidup.
Semua mungkin adalah jawaban dari doa-doa yang tak pernah ia ceritakan.
Doa-doa yang dipanjatkan saat aku tertidur.
Doa-doa yang diucapkan lirih ketika aku bahkan tidak tahu ia sedang merasa sesakit itu.
Hari ini aku sadar, banyak hal dalam hidupku berdiri di atas pengorbanannya.
Di atas lelah yang ia sembunyikan.
Di atas doa yang tak pernah putus.
Di atas keyakinannya bahwa anaknya harus hidup lebih baik dari dirinya.
Ya Rabb…
Terima kasih atas kebaikan-Mu untuk ibuku.
Terima kasih telah menjadikannya jalan datangnya banyak rahmat dalam hidupku.
Terima kasih telah menguatkan langkahnya saat mungkin dunia tidak berpihak padanya.
Jagalah ia sebagaimana ia menjagaku.
Bahagiakan ia sebagaimana ia membahagiakanku, bahkan saat dirinya terluka.
Panjangkan umurnya dalam sehat dan iman.
Dan kelak… bukakan syurga untuknya dari pintu mana saja.
Aamiin.
Sebab jika hari ini aku bisa berdiri,
mungkin itu karena dulu… ada ibu yang memilih tetap kuat, bahkan saat dunia hampir membuatnya runtuh. 🤍

Dan untuk para single moms di luar sana, ketahuilah, kamu memang kuat. Namun, jika suatu saat kamu menemui titik-titik terberat dalam hidupmu, ingatlah bahwa tidak semua beban harus kamu pikul sendiri. Bahu anak-anakmu mungkin kecil, dan tak selalu mampu menopang semuanya, tetapi mereka punya sebuah  ruang dalam hatinya yang selalu menunggu untuk mendengar ceritamu. Mereka punya ruang rasa untuk dilibatkan dalam apa yang sedang kamu rasakan.
Karena dari dirimulah, mereka tau bagaimana cara terbaik mencintai.
Jadi, berceritalah… ajak anak-anak yang sedang kamu perjuangkan hidupnya itu untuk sesekali menjadi bagian dari perasaanmu. Bukan untuk membebani, melainkan agar mereka tahu bahwa perjuanganmu lahir dari cinta, dan bahwa dalam hidup, kita saling menguatkan. 🤍

Komentar

Postingan Populer