tak ada sekolah untuk hal ini


Siang tadi saya bepergian menggunakan Jak Lingko. Perjalanan yang tampak biasa, hingga obrolan ringan dengan sang pengemudi membawa saya pada satu perenungan yang dalam. Ia bertanya dengan nada sederhana, “Orang tua, ayah Ibu masih ada?”
Saya menjawab dengan refleks, “Alhamdulillah, masih lengkap.”
Tak ada yang istimewa dari jawaban itu, setidaknya menurut saya. Namun responsnya justru membuat saya terdiam. Ia mengucap syukur, lalu berkata pelan namun penuh makna, bahwa saya adalah orang yang beruntung. “Masih ada berkah, masih ada surga di dunia,” katanya.

Kalimat itu menancap lama di kepala saya.
Tak ada sekolah yang bisa membuat orang pandai dalam hal ini. Tak ada ilmu yang sanggup mengantarkan manusia pada kepandaian ini. Karena semakin tinggi ilmu seseorang, semakin ia tahu bahwa ia belum tentu pandai dalam hal ini. Hal tersebut adalah pandai bersyukur.

Di dalam kendaraan yang terus melaju, saya bertanya pada diri sendiri: benarkah ini sebuah privilege yang luar biasa? Ataukah selama ini kita hanya kurang mahir mensyukuri hal-hal yang terlalu sering hadir, terlalu dekat, terlalu biasa hingga nilainya memudar di mata kita?
Bagi sebagian orang, memiliki orang tua yang masih lengkap adalah doa yang belum terjawab, atau bahkan doa yang tak lagi bisa dipanjatkan. Sementara bagi sebagian lainnya—termasuk saya, ia hadir sebagai rutinitas, seperti suara yang biasa, kehadiran yang kadang dianggap pasti. Hingga seseorang yang asing, dengan hidup yang berbeda, mengingatkan bahwa ini bukan sekadar keadaan, melainkan anugerah.

Pandai bersyukur memang bukan soal mengetahui banyak hal, melainkan soal menyadari. Menyadari bahwa tidak semua yang kita miliki akan selalu tinggal. Menyadari bahwa yang hari ini kita anggap biasa, bisa jadi adalah kemewahan bagi orang lain. Dan menyadari bahwa keberlimpahan sering kali bersembunyi dalam hal-hal yang paling dekat dengan kita.

Mungkin benar, tidak ada sekolah untuk bersyukur. Karena pelajarannya justru datang dari perjumpaan singkat, dari percakapan sederhana, dari perjalanan yang tak direncanakan untuk mengubah cara pandang. Hari itu, di dalam Jak Lingko, saya belajar kembali bahwa bersyukur bukan tentang menambah apa yang kita miliki, melainkan tentang membuka mata terhadap apa yang selama ini sudah ada.

Semoga kita semua dimampukan

Komentar

Postingan Populer