Si Paling Tertib
Saat tulisan ini dibuat, saya sedang menikmati malam yang tenang bersama suami di sebuah kafe di bilangan Jakarta Pusat.
Lampu-lampu temaram, suara gelas beradu pelan, obrolan pengunjung yang saling bersahutan… semuanya terasa hangat. Sampai pandangan kami tertuju pada sekelompok orang di sudut ruangan.
Mereka tampak sibuk memindahkan bangku ke sana-sini. Geser satu, tarik satu, putar sedikit. Ribet sekali kelihatannya. Sepertinya mereka sedang berusaha menyesuaikan jumlah kursi dengan rombongan yang datang.
Refleks, para suami, ya termasuk suami saya,berkomentar,
“Wah, mbak-mbak itu repot banget ya…”
Dan saya?
Saya cuma mengangguk biasa.
Karena jujur, di kepala saya itu hal yang lumrah. Bukankah kita sering begitu? Datang ke tempat, lalu menyesuaikan meja dan kursi agar “cukup” untuk kita. Saya juga sering melihat orang melakukan hal yang sama. Tidak ada yang aneh.
Sampai suami saya berkata,
“Coba lihat sekeliling deh…”
Saya menoleh.
“Di sebelah sana ada bangku panjang yang sebenarnya bisa langsung muat untuk banyak orang. Mereka nggak perlu repot mindahin satu-satu.”
Saya diam.
Lalu tiba-tiba kalimat itu seperti mengetuk sesuatu di kepala saya.
Iya juga, ya?
Kenapa kita sering memaksakan sesuatu agar “fit” dengan kebutuhan kita… padahal mungkin dari awal, tempat itu memang bukan porsinya.
Malam itu, entah kenapa pikiran saya langsung berlari ke analogi yang random tapi masuk akal:
Tutup botol Aqua tidak akan pernah cocok untuk menutup galon.
Dan ember… ya memang tidak butuh tutup botol.
Sesederhana itu.
Tapi lucunya, dalam hidup kita sering melakukan hal serupa.
Memaksakan hubungan yang jelas-jelas tidak pas.
Memaksakan peran yang bukan kapasitas kita.
Memaksakan tempat yang tidak memberi ruang.
Memaksakan diri untuk “cukup” di sesuatu yang memang bukan ukurannya.
Padahal bisa jadi… kita hanya salah memilih “bangku”.
Bukan salah bangkunya.
Bukan salah kitanya.
Hanya memang tidak cocok.
Dan semakin dipaksa, semakin banyak energi terbuang.
Dari obrolan sederhana di kafe malam itu, saya belajar satu hal dari suami saya—si paling tertib.
Beliau bukan hanya melihat sesuatu dari “bisa atau tidak”, tapi dari “perlu atau tidak”.
Dari “muat atau tidak”, tapi juga “tepat atau tidak”.
Mungkin kalau lebih banyak orang berpikir seperti itu, banyak hal akan berjalan lebih tertib.
Kita jadi belajar memahami batas diri.
Belajar menghormati sistem yang sudah ada.
Belajar menghargai upaya orang lain.
Dan yang paling penting… belajar memilih tempat yang memang pas tanpa harus mengacak-acak semuanya hanya demi menyesuaikan ego kita.
Kadang hidup bukan soal seberapa kuat kita memaksa sesuatu agar berhasil.
Tapi seberapa bijak kita menyadari:
“Oh… ternyata yang saya butuhkan bukan memindahkan semua bangku.
Cukup pindah tempat duduk.”
—
insight malam ini dari saya dan suami.
Have a good day 🤍
Komentar
Posting Komentar