sabotase diri
Sebagai guru, saya belajar bahwa tidak semua kegagalan murid berakar pada kurangnya kemampuan. Ada kalanya, kegagalan justru lahir dari upaya mereka melindungi harga dirinya sendiri. Dalam psikologi, ini dikenal sebagai self-handicapping—tindakan menciptakan rintangan agar ketika hasil tidak sesuai harapan, mereka punya alasan untuk tidak merasa “tidak cukup”.
Pengetahuan ini menyadarkan saya bahwa menjaga self-esteem murid sama pentingnya dengan mengajarkan materi pelajaran. Banyak perilaku yang tampak seperti kemalasan, ketidakpedulian, atau penolakan, ternyata merupakan cara tidak sadar untuk menutupi rasa takut: takut gagal, takut tidak memenuhi ekspektasi, atau takut mengecewakan lingkungan.
Saya teringat pada satu kasus, di mana keputusan seorang murid bukan benar-benar berasal dari dirinya sendiri, melainkan terbentuk dari pesan-pesan lingkungan yang terus ia terima. Bukan dalam bentuk paksaan langsung, tetapi melalui kata-kata, sikap, dan standar yang perlahan ia yakini sebagai satu-satunya jalan. Di titik itu, saya bertanya pada diri sendiri: apakah cara saya bersikap ikut membentuk keyakinan tersebut?
Self-handicapping sering berjalan beriringan dengan sabotase diri. Murid menahan potensinya, menurunkan harapan terhadap dirinya sendiri, atau memilih diam agar tidak perlu mempertanggungjawabkan pilihan. Salah satu kalimat yang paling mengguncang saya datang dari seorang murid:
“Saya ini robot, Bu. Saya tidak punya hati dan pikiran. Pendapat saya tidak diperlukan. Saya hanya mengikuti perintah orang tua.”
Kalimat itu membuat saya sadar, bahwa bagi sebagian murid, menjadi “robot” terasa lebih aman. Tidak perlu mengambil keputusan, tidak perlu salah, tidak perlu disalahkan. Namun sebagai guru, saya percaya bahwa tugas kami bukan membentuk murid yang patuh tanpa suara, melainkan manusia yang sadar akan dirinya.
Saya belajar bahwa memang ada saatnya murid perlu mengikuti aturan, menjalankan peran, dan belajar disiplin. Namun mereka juga perlu tahu bahwa ada batas: kapan mengikuti, dan kapan berpikir serta memilih secara mandiri. Kesadaran inilah yang harus dilatih—bukan dengan paksaan, tetapi dengan dialog.
Refleksi ini mengingatkan saya untuk lebih berhati-hati dalam memberi label, lebih lembut dalam menuntut, dan lebih sadar dalam mendengarkan. Karena lingkungan yang aman bukanlah lingkungan tanpa aturan, melainkan lingkungan yang memberi ruang untuk tumbuh, salah, dan belajar kembali. Di sanalah self-esteem murid bertumbuh, dan di sanalah peran guru menjadi sungguh bermakna
Fenty Asnath
2024
Komentar
Posting Komentar