pondasi kehidupan
Kami hidup menanam tiang-tiang pancang
di tanah pada hari yang keras dan berdebu.
Setiap pagi palu waktu menghantam dada,
setiap sore keringat menjadi saksi
bahwa rezeki tak pernah jatuh tanpa bunyi.
Di antara kepadatan kerja,
kami belajar berdiri tegak
bukan karena kuat sepenuhnya,
melainkan karena harus.
Ada tanggung jawab yang tak boleh roboh,
ada harapan yang mesti disangga.
Kami menukar lelah dengan keyakinan,
menukar waktu dengan doa yang diam-diam dilanjutkan,
pada tiap pondasi
yang kami harap tak runtuh oleh angin kecil.
Namun ada waktu lain
yang tak diukur oleh jam kerja.
Saat langkah pulang diperlambat,
dan pintu rumah menjadi batas
antara dunia yang menuntut
dan dunia yang menerima.
Di sanalah kami membangun yang tak kasatmata:
rekat detak jantung rumah.
Lewat tawa di meja makan,
lewat cerita yang tak selalu selesai,
lewat kehadiran yang sederhana
namun menyelamatkan.
Jika kerja adalah tiang pancang kehidupan,
maka keluarga adalah rumah
yang membuat kami tahu
untuk apa semua ini ditegakkan.
jika hari hari
kau dengar rintik rintik tawa kami menghantam bumi,
Ketahuilah itu cara kami bersyukur
atas segala rasa cukup yang ada pada hari ini
Komentar
Posting Komentar