aku dan soraksorai

Aku mencintai dunia hiburan, seni, musik—apa pun bentuknya karena di sanalah momen hidup bernafas.
Momen ketika bahagia boleh menjadi bahagia sepenuhnya.
Tanpa rasa sungkan. Tanpa takut dibilang berlebihan.
Di momen itu, keseruan terasa tepat pada porsinya.
Karena ia hadir di waktu yang benar.
Bahagia yang lahir dari sana selalu murni.
Mereka yang ada di dalamnya pun orisinal.
Saat senang, mereka bilang senang.
Saat tidak suka, mereka berani bilang tidak suka.
Tak ada topeng. Tak ada pura-pura.
Dan yang paling aku sukai, 
kita diberi ruang untuk menunjukkan rasa sayang pada sekitar.
Dengan cara yang jujur.
Dengan bahasa perasaan yang sederhana.
Aku pernah melihat potongan kehangatan itu di acara Tali Kasih di televisi.
Hangat. Tulus.
Dulu, aku ingin ngetop.
Bukan semata ingin dikenal,
tapi ingin bertemu bapak.
Ingin ia tahu bahwa ia masih punya anak,
bahwa masih ada ikatan, masih ada tanggung jawab,
dan mungkin masih ada ruang untuk berkumpul seperti di acara itu.
Namun sekarang, ketika tali-tali persaudaraan perlahan berhasil dirajut,
ketika pertemuan sudah ada,
aku sadar:
aku tak perlu lagi menjadi juara di ajang-ajang bakat televisi
untuk merasa diakui.
Kini, yang perlu aku jaga hanyalah satu hal:
rasa cukup di dalam diri.
Karena ketika hati merasa cukup,
cinta tak perlu ditunjukkan dengan sorak sorai,
ia hadir dengan tenang,
dan tetap punya tempatnya sendiri

Fenty Asnath
Mengawal tahun 2026
untuk kembali mengingat niat, bahwa fokus utama ku memulai bukan untuk diriku sendiri.

Komentar

Postingan Populer